Free SSL Certificate
Cara Proses Pemesanan Seragam Batik
Cara Proses Pemesanan Seragam Batik Untuk Memperoleh Hasil Yang Maksimal
March 1, 2017
Museum Batik Danar Hadi
Museum Batik Danar Hadi Salah Satu Destinasi Wisata di Solo Yang Wajib Dikunjungi
March 4, 2017

Kampung Batik Laweyan | Destinasi Wisata Solo | Sejarah Asal-usul dan Keunikannya

Kampung Batik Laweyan

Kampung Batik Laweyan, sebuah kecamatan yang berlamat Jl. Dr. Rajiman Surakarta, salah satu destinasi wisata solo,  memiliki sejarah atau asal usul yang menarik dan kini menggeliat sebagai salah satu pusat perdagangan batik yang ramai.

Tembok tinggi dan sarat dengan bangunan lawas mengisyaratkan kalau tempat ini memiliki perjalanan panjang untuk menjadi salah satu pusat ekonomi kota Solo. Tidak ada gemerlap selayaknya nuansa di kota modern, tapi lebih kepada mempertahankan gaya vintage budaya Solo yang memang dikenal menarik sejak dulu.

Artikel yang berhubungan :

Kampung Batik Laweyan

Disebut kampung batik karena di Solo ini adalah salah satu tempat produsen dan pedagang serta kini banyak gerai-gerai atau toko yang berjajar dari mulai jalan besar di ujung Dr. Rajiman sampai pada jalan yang lebih kecil.

Kampung Batik Laweyan

Aku dan anakku di salah satu gerbang Kampung Batik Laweyan.

Mulai memasuki wilayah ini, kita akan menemukan dinding tembok bangunan tempo doeloe yang kokoh dan tinggi. Bangunan rumah atau sebut saja pabrik sama sekali tidak terlihat dari luar. Hanya gerbang (sebutan untuk pintu yang lebih besar) dan pintu kecil jika terbuka barulah kita akan dapat melihat bangunan bangunan yang menjadi pengisi bagian dalam tembok tersebut.

Kampung Kuno

Bangunan tersebut tentu saja memiliki lahan yang sangat luas. Mirip keraton kecil dimana juragan batik sebagai “raja” bermukim bersama para pengrajin dan tenaga kerja yang pada masa lalu disebut dengan kebon. Mereka bekerja di bagian belakang rumah sang juragan.

Kini bangunan tersebut banyak yang berubah. Banyak kita temui di bagian depan sudah dibangun dengan gerai atau toko untuk berjualan batik. Namun tidak sedikit pula yang sudah berubah fungsi, sebagaimana aku lihat dan dengar langsung dimana salah satu juragan batik masa lalu kini telah merubah bangunannya menjadi sebuah hotel.

Adapula beberapa yang kelihatannya  sudah tidak berpenghuni.

Kampung Laweyan

Laweyan sendiri adalah salah satu kecamatan di kota Solo dengan beberapa kelurahan, antara lain Kelurahan Penumping, Sriwedari, Purwosari, Kerten, Jajar, Karangasem, Pajang, Sondakan, Laweyan, Bumi dan Panularan.




Arti Laweyan berasal dari kata “Lawe” yang berarti benang atau serat yang menunjukkan dimana sejak dulu daerah ini hadir, masyarakatnya telah memproduksi benang yang diekspor ke mancanegara.

Arti Laweyan

Daerah ini cukup menarik karena dikelilingi oleh sungai. Konon jaman dulu moda transportasi untuk pengiriman barang menggunakan perahu, dimana sungai tersebut kemudian berujung Bengawan Solo yang lebih besar.

Sejarah dan Asal Usul Kampung Batik Laweyan

Sangat menarik membaca sejarah Kampung Batik Laweyan ini, dan aku coba pagi-pagi menelusuri jejak sejarah ini dengan sedikit mengambil beberapa foto, terutama di daerah Pajang dimana terdapat salah satu Mesjid Tertua di Solo dan terdapat Makam Ki Ageng Henis.

Ya, Peranan yang sangat besar dari Ki Ageng Henis ini yang membuat Kampung Laweyan menggeliat sampai sekarang. Mengajarkan beragam aktifitas ekonomi masyarakat terutama batik beriringan dengan dakwah dalam menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat.

Mesjid Tertua di Solo

Mesjid Laweyan, salah satu mesjid tertua di Surakarta yang satu komplek dengan Pasareyan Dalem Kyai Ageng Henis.

Mesjid Laweyan

Siapa Ki Ageng Henis

Menurut Wikipedia  Ki Ageng Henis adalah putra Ki Ageng Sela. Ki Ageng Enis berputra Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Pemanahan berputra Sutawijaya atau Mas Ngabehi Loring Pasar atau Senapati pendiri kerajaan Mataram Islam.

Ki Ageng Henis

Dalam sejarah Pajang, Pemanahan dan Sutawijaya bersama-sama dengan Ki Juru Martani dan Ki Panjawi, sangat berjasa kepada Sultan Pajang Hadiwijaya (Jaka Tingkir atau Mas Karebet) sebab dapat membunuh Arya Panangsang, musuhnya dari Jipang. Selanjutnya atas jasa tersebut, Sultan Hadiwijaya memberi anugerah tanah Pati kepada Ki Panjawi, dan tanah Mataram kepeda Ki Ageng Pamanahan. Sedang kepada Ki Ageng Enis dianugerahi tanah perdikan di Laweyan.Karena ketaatan para kawulanya, Ki Ageng Enis mendapatkan sebutan Ki Ageng Luwih, makamnya di Astana Lawiyan. Istilah Lawiyan berasal dari kata Luwih (sakti) dari Ki Ageng Enis tersebut.

Gerbang Makam Ki Ageng Henis

Gerbang Makam Ki Ageng Henis

Istilah Lawiyan juga kita temukan pada peristiwa pembunuhan Raden Pabelan (Jaka Pabelan atau dalam cerita Ki Gede Sala disebut Kyai Batang). Dia dibunuh karena bermain asmara dengan putri bungsu Sultan, yaitu Raden Ayu Sekar Kedaton. Mayat Jaka Pabelan dibuang di Sungai Lawiyan (Sungai Jenes).

Makam Ki Ageng Henis

Makam Ki Ageng Henis (Tengah)

Selanjutnya nama Lawiyan disebut pula dalam peristiwa pelarian Sunan Paku Buwana II ke Panaraga dalam masa Geger Pacinan (Pemberontakan Tionghoa). Daerah ini dipergunakan sebagai tempat peristirahatan dan persembunyiannya. Sunan mohon berkah di Astana Lawiyan (Makam Ki Ageng Enis). Maka Sunan Paku Buwana II juga disebut Sunan Nglawiyan dan ketika mangkat juga dimakamkan di Astana Nglawiyan.

Suasana Makam Ki Ageng Henis

Lebih lanjut tentang siapa Ki Ageng Henis ini bisa dibaca di Wikipedia.

Keunikan Kampung Batik Laweyan

Banyak yang dapat dilirik di Kampung Batik Laweyan ini. Kebetulan anakku sekolah di Kelurahan Bumi, Laweyan. Sehingga hampir tiap hari aku melewati tembok-tembok berdinding tebal dan tinggi. Jika pagi-pagi sangat terasa sepi, demikian pula jika malam sudah mulai dilewati.

Laweyan

Namun Jalan Dr. Rajiman sama seperti yang lainnya. Seakan tidak pernah tidur. Walau tidak seramai di Slamet Riyadi, misalnya. Jika malam tiba, beberapa kuliner mulai menunjukkan aneka jajanan.

Bangunan unik yang sangat terkenal di wilayah ini adalah Ndalem Tjokrosoemartan. Dalem berarti rumah. Rumah ini adalah eks saudagar batik jaman dulu yang bernama Tjokrosoemarto. Dibangun pada tahun 1915. Sekarang kerap digunakan untuk acara pernikahan sebagaimana namanya yakni Sasana Pawiwahan Ndalem Tjokrosoemartan. Sejak tahun 1997, oleh Joop Ave, Menteri Pariwisata saat ini bangunan ini telah ditetapkan sebagai Monumen Batik Indonesia.

ndalem tjokrosoemartan

Jika kita masuk ke jalan-jalan yang lebih kecil, banyak gerai batik yang besar maupun kecil dan beberapa pengrajin yang sedang membuat batik baik tulis maupun batik cap. Bau malam cukup terasa dan ini menular ke daerah yang berbatasan dengan Laweyan seperti Banaran, Colomadu, Baki dan sebagainya.

Artikel berhubungan :

  1. Ciri Khas Batik Tulis Asli
  2. Batik Cap Khas Solo

Selain itu Syarikat Dagang Islam, salah satu perkumpulan atau asosiasi dagang pertama di negeri ini berdiri di Lawiyan dengan tokohnya yang dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional KH Samanhudi. Beliau dikebumikan di Desa Banaran yang berbatasan langsung dengan Kampung Kaweyan.

Wedangan Rumah Nenek

Ketika kita ingin rehat, ada tempat menarik di sini dengan nuansa bangunan kuno yang unik yakni Wedangan Rumah Nenek yang terletak di Jl. Sidoluhur, Laweyan.

Hanya bagi pecinta bakso seperti aku ini, hanya menyarankan untuk mengunjungi Bakso Yang Enak di Solo ini.

Sekilas tentang Kampung Batik Laweyan sebuah lingkungan yang unik dan layak untuk dijadikan destinasi wisata karena memiliki nilai sejarah yang menarik untuk dipelajari selain tempat belanja batik, langsung dari Kota Batik.

 

Lelly
Lelly
Lelly, ibu dari 3 orang anak, pemilik Toko Online BatikGanitri.Com dan BatikGanitri.Co.Id. Batik Ganitri menyediakan batik tulis, batik cap, batik printing, shibori, jumputan dalam bentuk kain dan pakaian jadi. Juga menerima seragam batik untuk sekolah, instansi, pramugari dan seragam keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.