Free SSL Certificate

Penyakit akut yang diderita oleh aku dan suami adalah sulit move on, tapi bukan berarti masalah pacar, hanya kebiasaan dan kenyamanan yang sebelumnya dirasakan, susah untuk berpindah ke hal-hal yang baru. Padahal perubahan selalu ada.

Aku sempat mengalami kondisi dimana masih kurang percaya kalau aku sudah meninggalkan kantorku yang pernah aku duduki selama kurang lebih 18 tahun. Aku kadang masih merasakan punya anak buah padahal saat itu ketika urusan pensiun dini kelar, aku harus berdiri sendiri dengan komitmen pada toko onlineku. Aku masih berharap bukan sendiri yang melakukannya untukhal hal teknis tapi staff, asisten atau apalah namanya.

Suamiku lebih dulu bebas dari karyawan sebuah perusahaan agen minyak solar. Dia lebih dulu mengenal dunia online. Memiliki blog dan jauh lebih fasih tentang internet, google dan beberapa istilah di dunia maya yang baru aku kenal 2 tahun terakhir. Namun ada kelemahannya juga. Agak sulit untuk melakukan pekerjaan offline selain kirim barang ke perusahaan kurir seperti JNE atau Indah Cargo. Bahkan untuk bertemu teman-temannya seperti memiliki kesulitan karena jarinya tidak ingin lepas dari mouse dan keyboard.




Kondisi ini yang harus dirubah. Harus mengikuti perkembangan yang ada sesuai dengan keperluannya.

Ini Caraku Mengatasi Sulit Move On

  • Jauh sebelum punya blog, aku sudah diajari kenalan dengan apa itu Google. Tidak hanya sebagai mesin pencari untuk nggolek opo wae yang ada dalam pikiran. Tapi lebih dari itu. Ada email (aku langsung praktek bikin sendiri, sebelumnya lebih suka menggunakan pesaingnya, trend (aku suka melihat jika ada ide tentang varian dari batik, riset (ini baru sedikit dikenalkan kepadaku tentang google planner) dan bagian dari search analytic yang baru-baru ini aku mempelajarinya. Sangat menarik. Ini tidak lebih karena yang nomor 2 di bawah ini.
  • Triggernya adalah blog.  Seakan memiliki magnet yang kuat. Bisa jadi jutaan ilmu jika ingin menggalinya bisa muncul dari blog. Siapa nyangka aku akan dikenalkan dengan “SEO FRIENDLY” yang berpengaruh pada gaya menulis. Kata suamiku, keindahan blogger adalah bisa menyesuaikan tulisan untuk dibaca oleh pengunjung dan mesin pencari. Entah bagaimana saat itu suamiku bisa memperlihatkan padaku 2 menit setelah mengklik publish, sebuah artikel muncul di mesin pencari. Dari sinilah aku paham. Google bisa membantu banyak memasarkan produk lewat web, ikut woro-woro ada artikel yang dicari oleh pengunjung dan singgah penuh harap di blog kita. Hanya saja, perlu belajar banyak karena ternyata sangat sulit untuk dapat menempati halam pertama, apalagi konten batik yang pesaingnya sangat ketat dibanding ketika aku mendirikan BatikGanitri.com pada September 2014 lalu.
  • Sebelumnya aku sangat cuek dengan media sosial. Facebook hanya ikut-ikutan. Asal punya saja biar tidak disebut gaptek-gaptek amat. Twitter apalagi. Dulu suamiku yang ngelola akun BatikGanitri. Instagram? Walau sebelumnya lebih dulu tahu aku ketimbang MYY yang hanya kenal blog dowang wkwkwkwk. Tapi sekarang aku mulai peduli. Semua terpasang manis di Xiaomiku. Aku butuh publikasi untuk menciptakan publisitas demi kelangsungan dan tumbuhnya Batik Ganitri. Aku memiliki kepentingan untuk koar-koar, mengabari kepada penghuni Nusantara kalau aku punya batik yang bagus dan murah.
  • Akupun sangat welcome dan sumringah ketika MYY mengajakku untuk berguru langsung dengan salah satu pakar sosial media di Surabaya. Inilah pentingnya bersosialisasi dan menuntut ilmu. Aku terpikir kenapa baru saat ini. Dan MYYpun mungkin baru terpikirkan sekarang untuk mengajakku menuntut ilmu supaya mengenal lebih jauh dengan internet marketing. Karena aku yang punya usaha batik.

Hasilnya?

  • Aku dan suamiku lebih semangat lagi untuk  menggali Google dan seisinya yang kini masih merajai mesin pencari dan berbaik hati mengantarkan pembeli ke blogku walau belum melimpah.
  • Aku gak peduli jempolku harus keriting. Kadang sambil nyuapin Avis juga masih mencet-mencet ponsel dalam memberikan layanan CS kepada pelanggan sambil bermedsos ria ketika ada jeda. Siapa tahu malah bisa jadi seleb medsos wkwkwk wk.
  • Aku lebih semangat lagi karena dalam kurang dari satu minggu temanku bertambah dua ribu duaratus tigapuluh di facebook, dan mereka bisa dikatakan kawan-kawan baru yang memiliki etika bermedia sosial yang baik yang memberikan penghargaan yang baik pula pada usahaku, yang lebih penting berkenan menjadi temanku, walau sudah pada tahu sebelumnya kalau aku memang berdagang batik karena akunku sudah kuberi nama Lelly Batik Ganitri. (Link facebookku ada di sidebar ya, jika berkenan untuk menjadi temenku di fb).
  • Aku sangat bergembira ketika ada yang inbox lantas closing dalam bentuk transaksi.
  • Aku belum bergembira karena sulit untuk menambah follower di Twitter dan Instagram, walau aku doyan berburu hastag dari trending topik. Caranya yang masih sulit kulakukan. Akhirnya sesuai dengan anjuran  sang pakar, cukup memilih satu media sosial untuk dijadikan sandaran, yakni f a c e b o o k. Lainnya, jadikan bonus ajang belajar.

Kesimpulannya?

Caraku untuk mengatasi sulit move on adalah gabung di komunitas, cari kawan dan tutor yang semuanya baru namun sama sekali aku tidak meninggalkan kawan lama.

Tweet: Caraku untuk mengatasi sulit move on, gabung di komunitas, cari kawan dan tutor yang semuanya baru namun tidak meninggalkan kawan lama.

 

Lelly
Lelly
Lelly, ibu dari 3 orang anak, pemilik Toko Online BatikGanitri.Com dan BatikGanitri.Co.Id. Batik Ganitri menyediakan batik tulis, batik cap, batik printing, shibori, jumputan dalam bentuk kain dan pakaian jadi. Juga menerima seragam batik untuk sekolah, instansi, pramugari dan seragam keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *