Free SSL Certificate

Berkunjung ke Museum Trinil ini sama sekali tidak direncanakan. Namun karena sering dilewati ketika perjalanan dari Surabaya maupun dari Ngawi dimana kedua tempat itu sangat familiar, maka kali ini kami mengunjunginya, lebih-lebih papan arah ke museum peninggalan purba ini terpampang jelas di jalur utama Surabaya – Solo.

Kurang lebih hanya berjarak 2 km dari jalur utama, menuju Museum ini harus masuk melalui perkampungan Kadunggalar, Ngawi. Perjalanannya sangat menarik, kiri kanan masih dipenuhi pesawangan dan perkebunan serta rumah-rumah penduduk dengan bentuk khas Jawa. Unik.

Berkunjung ke Museum Trinil

Berkunjung Ke Musem Trinil

Setelah melewati jalur tadi, kita akan masuk gerbang dengan pos penjagaan. Saat itu menunjukkan pukul 12.45, petugas jaga kelihatannya masih istirahat. Menurut penduduk setempat kita dipersilakan masuk saja, nanti lapornya setelah pulang. Kamipun mengikuti sarannya, dan beraksilah foto-foto.

Gerbang yang kokoh dengan model terbelah, bentuknya mirip Wringin Lawang yang sempat aku tulis beberapa waktu yang lalu, hanya gerbang ini tentu saja terbuat dari adukan semen, dengan warna gelap. Kami foto sebentar di area ini yang merupakan lahan parkir yang cukup luas. Beberapa bangunan warung terlihat sudah tutup, mungkin saat ini adalah waktu sepi untuk berkunjung.

Artikel berhubungan : Candi Wringin Lawang, Mojokerto

Pada bagian ini pula terlihat papan nama Museum Trinil dengan warna oren.

Patung Stegodon

Setelah foto sebentar di bagian depan kamipun masuk gerbang. Di sebelah kanan terlihat ada patung gajah besar, kelak menjadi tahu kenapa patung ini yang menjadi icon karena di sini ditemukan gading dan kepala gajah purba, tepatnya bernama Stegodon (sangar nih namanya).

Avis merengek pengen mendekati patung ini. Tentu saja kamera kembali beraksi dan mengabadikan kami berdua persis di samping gading yang panjang.

Museum Trinil

Sambil menunggu petugas yang masih beristirahat, kami duduk-duduk di pendopo yang cukup luas. Lantai yang bersih dengan atap khas Jawa atau Joglo, bangunan ini cocok untuk tempat berkumpul atau saresehan pengunjung.

Aku sempat berkeliling sejenak sebelum masuk ke Museum, dan ternyata tempat ini juga memiliki fasilitas tempat bermain bagi anak-anak dan jika ke bagian bawah disediakan arena outbond yang menarik.

Berkunjung ke Museum Trinil

Akhirnya masuklah kami ke bagian dalam museum. Pada bagian pintu masuk, kembali kami dihadapkan dengan gading stegodon yang besar mengelilingi pintu yang membentuk jangka atau segitiga. Setelah melewati ini dan berhadapan dengan pintu kaca yang mewah, barulah kita masuk ke museum dengan berbagai etalase dan diorama yang dipertunjukkan dengan masing-masing memiliki catatan nama peninggalan yang kebanyakan berupa tulang belulang yang sudah menjadi fosil berikut dengan mencantumkan siapa penemunya.

Gading Stegodon

Aku berbincang dengan petugas museum.

Ya, di bagian depan, disuguhkan sepasang Gading Stegodon yang panjang dan bagian kepala atau tengkorak yang cukup besar. Mungkin inilah penemuan yang spektakuler kali di sini, sehingga dijadikan sebuah icon sebagaimana yang aku sampaikan di atas.

Padahal, dulu ketika aku belajar sejarah, Trinil terkenal dengan Phitecantropus Erectus. Di museum ini memang dipamerkan beberapa batok kepala dan tengkorak dari peninggalan yang terkenal dengan penemunya Dubois itu. Tentu saja memiliki kemiripan seperti di Sangiran.

Oh ya, Sangiran termasuk kabupaten Sragen dimana berbatasan langsung dengan Kabupaten Ngawi. Mungkin bisa jadi segaris kali ya, sehingga peninggalan purba sering ditemukan penduduk di kedua daerah ini sebagaimana disampaikan oleh petugas yang menemani kami saat ini. Kata petugas juga, banyak penduduk  sering menemukan fosil ketika mereka melakukan penggalian, seperti sumur, misalnya.

Berkunjung ke Museum Trinil

Diorama menjadi perhatian Avis, dan selalu melihat-lihat. Entah apa di benaknya. Yang jelas 2 bagian ini yang menjadi perhatian anakku yang berumur 4 tahun ini, Diorama Phitecanthropus Erectus dan Gading Stegodon.

Tanduk Kerbau Purba

Yang terlihat utuh dan menarik perhatian juga adalah tanduk kerbau yang lagi-lagi sangat besar.

Etalase Fosil

Sudut lain Museum yang menampulkan aneka fosil dan peninggalan purba lainnya.

Museum ini dikelola oleh 2 instansi yakni Badan Kepurbakalaan dan Dinas Pariwisata. Menurut petugas tersebut, Museum Trinil sangat lengkap dibanding dengan Sangiran, namun masih kurang promosi wisatanya sehingga dalam hal banyaknya pengunjung yang datang ke sini, masih kalah dengan Sangiran yang lebih ramai.

Harapannya tentu saja kelak menjadi semakin ramai, dan menjadi bagian yang tidak dilewatkan oleh para wisatawan yang berkunjung ke Ngawi.

Aku sendiri baru 2 tempat wisata yang digadang-gadang oleh Pemda Ngawi yang memiliki daya tarik tersendiri, yaitu Benteng Pendem Van den Bosch dan Museum ini.

Bisa dibaca di Benteng Pendem Van den Bosch Ngawi.

Kelak ada beberapa kesempatan dalam waktu dekat harus mengunjungi Ngawi lagi, dan jika ada waktu akan mengunjungi tempat wisata lain di Ngawi ini. Maklum perjalananku sambil mengurus sesuatu, jadi harus canggih nih ngatur waktunya. Inipun kami terlalu siang, yang kadang membuat MYY sewot karena gak doyan motret siang hari. “Hasilnya jelek”, katanya.

Perkebungan Jati Ngawi

“Bagi donk, Ma!”.

Hanya 2 jam kami berada di sini, lantas kami melanjutkan perjalanan ke Solo dan beristirahat sebentar di daerah Perkebunan Jati dan Mahoni untuk mencicipi kelapa muda sebagai penawar haus.




Artikel berhubungan : Tempat Wisata Jawa Timur Yang Menarik

 

Lelly
Lelly
Lelly, ibu dari 3 orang anak, pemilik Toko Online BatikGanitri.Com dan BatikGanitri.Co.Id. Batik Ganitri menyediakan batik tulis, batik cap, batik printing, shibori, jumputan dalam bentuk kain dan pakaian jadi. Juga menerima seragam batik untuk sekolah, instansi, pramugari dan seragam keluarga.

1 Comment

  1. vita says:

    bagus2 informasinya mbak..
    sukses slalu bt mba dan sekeluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *