Free SSL Certificate

Di dalam pesawat pulang ke Surabaya pada pertengahan 2014, ketika selesai acara perpisahan di Kantor Pusat di Jakarta, sempat melamun lama. Memikirkan rencana ke depan setelah diskusi panjang dengan MYY, suamiku.

Alternatif pertama adalah melamar kembali kerja di isntitusi sejenis, karena pengalaman selama 18 tahun di dunia perbankan lumayan eman-eman untuk ditinggalkan. Tapi ternyata di kemudian hari, hanya surat lamaran yang dibuat. Dikirimnya tidak sama sekali.

Alternatif kedua adalah ikut workshop menjadi agen properti. Sempat saya ikuti, bahkan membeli bukunya. Namun setelah ikut workshop, ternyata hanya bisnis seminar semata yang saya rasakan.

Diskusi sama MYY adalah menghasilkan batik. Menjualnya secara online. Pertimbangannya aku adalah orang Solo. Dekat dengan Kampung Laweyan dimana pengrajin, grosir, distributor dan kawan, banyak yang menjadi pengusaha batik. MYY adalah seorang blogger dan penggiat internet marketing yang saat itu sedang tumbuh, memberikan support untuk mengelola secara online. Aku bagian penyedia produk yang menarik. Akhirnya alternatif ketiga malah yang dipilih.

Kemudian diberi nama Batik Ganitri. Address online di BatikGanitri.Com dan BatikGanitri.Co.id.

Toko Online Batik

Ketika berdiri, Niar Ningrum, salah satu blogger Surabaya yang ngetop, didaulat menjadi “Duta Batik Ganitri”, saat itu.

Perjalanan memang berliku. MYY cukup gagap ketika masuk ke dunia produk yang diangkat melalui online. Saat itu harusnya kami terlebih dahulu belajar secara matang bagaimana mengangkat bisnis batik ke dunia online. Kami hanya belajar dari kompetitor. Dari webnya. Dan dari corak yang sekiranya laku. Berbagai riset.  Ternyata kurang memuaskan.

Padahal produk kami komplit. Masih idealis untuk mengangkat batik yang benar-benar dibuat dari proses perintang warna dengan perantaraan lilin. Alias batik original.

Batik tulis dan cap memenuhi lemari kami untuk dipasarkan. Bahan dari Pekalongan, Solo dan Madura menghiasi web kami. Motif pun demikian. Batik klasik yang menjadi ciri khas Solo yang dipengaruhi oleh batik keraton serta batik modern dengan motif flora dan fauna serta abstrak, memenuhi ruang depan rumah kami. Beruntung saat itu ada tetangga warga keturunan yang pecinta batik, bahkan pengetahuannya sangat banyak melebihi kami berdua. Jauh dari pengetahuan yang aku miliki yang berasal dari kota batik. Kami belajar banyak. Beliau juga yang kerap memborong jika ada batik baru kiriman dari Solo atau ketika aku pulang membawa banyak kain batik.

Koleksi kami semakin bertambah dengan ketertarikan MYY untuk ikut menyebarkan Batik Magetan yang memiliki ciri khas motif Pring Sedapur.

Namun, kami hanya bertahan selama 1 tahun. Fakum sementara untuk mencoba mengoreksi diri dari berbagai elemen bisnis. Kami merasa kurang pengetahuan dalam segala hal.

Saat itu, dalam waktu bersamaan MYY melanjutkan persiapan membangun usaha di Gresik. Saya sendiri ada tawaran yang lumayan menarik. Menerima tantangan menjadi pemasar dana pada bank yang dulu sempat membesarkanku. Lagi-lagi, harus mental bertahan hanya 3 bulan saja. Beruntung MYY memiliki usaha rintisan di Gresik yang cukup baik untuk saat itu, walau sebenarnya aku agak was was, bisnis yang digelutinya tidak berumur panjang karena beberapa kali yang namanya bisnis di internet yang dipilih tidak tahan lama. Di lain sisi beberapa pesanan batik masih kuterima dengan senang hati. Relasi kami masih menghubungi, namun nafas semangat lagi tidak berpihak.

Tahun ajaran baru anak sekolah adalah titik penentuan kami untuk melanjutkan atau tidak hidup di tanah Surabaya. Ada tiga pilihan, bertahan di Surabaya, pindah ke Gresik atau kembali ke Solo.

Solo Menjadi Pilihan.

Hanya melihat tumpukan batik, kami memutuskan untuk tinggal di Solo. Dekat dengan sumber batik mungkin akan banyak menginspirasi untuk kembali mencoba mengembangkan Batik Ganitri yang sudah hampir berusia 2 tahun.

Akhirnya kami bertekad untuk besama-sama mengembangkan Batik Ganitri walau MYY masih tinggal di Gresik. 

MYY mulai kembali membangun website yang sebelumnya hanya menampilkan “Under Constuction” 

MYY juga mulai membangun jaringan penjualan melalui Bukalapak dan Tokopedia setelah mendapat wejangan dari guru internet marketing, Mas Arul dari Surabaya.

Aku dengan semangat kembali membangun relasi untuk mendatangkan, membuat, mengadakan kain, menjahit dan sebagainya.

Di Solo, Kota Batik ternyata lebih mudah dan memberi semangat baru.

Selain itu, kota ini juga berdekatan dengan Yogyakarta yang terkenal dengan Maliboronya itu, yang memiliki batik yang khas, untuk kami belajar lebih banyak lagi.

Kami mulai berkreasi lebih banyak lagi.

Tampilan web dibuat dengan warna-warna yang lebih modern dan tidak terlihat kaku. (Lagi-lagi kami beruntung MYY suka eksperimen dengan photoshopnya, jadi kami menghemat untuk biaya desain dan web. Alhamdulillah.

Batik Ganitri

Bukalapak dan Tokopedia, walaupun tidak banyak terlihat dalam statistik penjualan, namun memberikan sumbangsih yang besar dalam memperbanyak relasi kami. Akhirnya komunikasi banyak terjalin melalui whatsapp dan BBM. (maaf ya Toped dan BL, kami tetep cinta kok).

Relasi dan reseller lama kembali mulai banyak yang menghubungi walau penjualan masih belum melimpah.

Kami mulai menyeleksi penjahit untuk meraih order pesanan batik, sementara di Surabaya kami sangat sulit untuk mendapatkan penjahit yang nyaman untuk diajak kerja sama, walaupun mungkin lebih banyak karena Surabaya lebih besar dari Solo.




Pesanan seragam mulai mengalir walau belum deras tapi betul-betul memberikan semangat yang tinggi kepada kami. Setidaknya ketika masuk bulan Desember kami hampir mengirim 300 potong seragam ke Garut, Bekasi, Lampung, Manado dan Gorontalo. Terima kasih atas apresiasinya.

Order Pesanan

Order mulai bermunculan. Gambar ini adalah order bulan Desember yang sudah tiba di tempat pemesan dari Gorontalo, Manado, Palembang dan Bekasi.

Jadi alasan membuka toko online, Batik dan Solo memang sudah menyatu sejak dulu. Kami harus ikut di dalammnya, mengikuti perkembangan jaman. “Link and Match” dengan MYY yang memang memiliki pengetahuan tentang dunia web.

Aku membaca novel Canting karangan Arswendo Atmowiloto yang dibeli MYY dua tahun yang lalu memberikan banyak inspirasi.

Saat ini kami merasa tepat untuk pindah ke Solo dan memilih batik untuk menjadi bagian hidup kami.

Kami masih terus belajar untuk mengembangkan Batik Ganitri.

Nantinya di blog ini aku akan lanjutkan cerita tentang perkembangan bisnis kami ini dalam kategori Bisnisku.

Ikutin terus, yah … Insya Allah, seru deh.

 

 

Lelly
Lelly
Lelly, ibu dari 3 orang anak, pemilik Toko Online BatikGanitri.Com dan BatikGanitri.Co.Id. Batik Ganitri menyediakan batik tulis, batik cap, batik printing, shibori, jumputan dalam bentuk kain dan pakaian jadi. Juga menerima seragam batik untuk sekolah, instansi, pramugari dan seragam keluarga.

2 Comments

  1. Dwi Puspita says:

    Mbak lely, terimakasih banyak ceritanya. Membacanya aku sangat yakin, jika usaha yg dilakukan sungguh2 dan tak putus asa suatu saat usaha tsb akan menjadi besar. Aku sekarang jg fokus brrbisnis mbak. Setelah resign dri institusi tempatku bekerja aku memilih usaha sendiri berdua dgn suami. Bismillah…aku yakin Allah akan memberikan rezeki itu. Asalkan kita tetap usaha, doa, dan tak kenal putus asa. Sedekah pun jangan sampai lupa, insyaallah…9 pintu rezeki itu dari berniaga. Lancar terus untuk usaha kita… amiiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *